Kenali potensi karir terbaikmu melalui beragam asesmen psikologi yang terukur, cek sekarang juga! ✨✨✨!
brand-logo
secondary-logo
Mengenal Imposter Syndrome dan 8 Tips Jika Kamu Merasakannya
KarirLab TeamDesember 15, 2023

Success in Work

Mengenal Imposter Syndrome dan 8 Tips Jika Kamu Merasakannya

Imposter Syndrome merupakan salah satu istilah yang menjelaskan perilaku merasa tak pantas, ragu akan pencapaian diri sendiri. Meskipun termasuk kondisi psikologis, imposter syndrome bukan termasuk gangguan mental.

Bagaimana sih perilaku orang yang mengalami imposter syndrome? Orang dengan imposter syndrome merasa tidak cerdas, tidak kreatif dan tidak berbakat sebagaimana banyak dilihat oleh orang lain. Orang dengan imposter syndrome merasa setiap hasil pekerjaannya adalah kebetulan dan hanya sebuah keberuntungan. Mereka juga merasa tidak cukup bagus sehingga terlihat tidak kompeten di mata orang lain.

Imposter syndrome berdampak langsung ke berbagai bidang, termasuk dalam dunia kerja. Banyak pekerja yang mengalami imposter syndrome hanya dalam waktu yang singkat, terutama bagi mereka yang baru masuk kerja atau memiliki peran baru dalam pekerjaan. Namun, banyak juga pekerja yang mengalami imposter syndrome dalam waktu yang lama.

Mereka yang memiliki imposter syndrome di lingkungan kerja memiliki berbagai tanda, seperti sering ragu akan kemampuan diri, mengaitkan keberhasilan dengan faktor lain, tak mampu melihat dan menilai keterampilan dan kompetensi yang dimiliki, takut gagal, kecewa hingga frustasi.

Contohnya, atasan atau rekan kerja mengharapkan hasil yang lebih lagi, namun mereka yang memiliki imposter syndrome merasa tidak mampu. Kondisi tersebut bisa menyebabkan orang dengan imposter syndrome menghindari pencapaian yang lebih baik lagi. Perasaan takut gagal tersebut membuat pekerja memiliki risiko burnout.

Penyebab Imposter Syndrome

Penyebab kita memiliki imposter syndrome karena berbagai hal. Dalam beberapa studi, peneliti menemukan bahwasannya imposter syndrome bisa disebabkan oleh berbagai faktor, bisa berasal dari berbagai latar belakang, usia hingga jenis kelamin.

Dilansir dari verywellmind, berikut beberapa faktor penyebab imposter syndrome:

  1. Pola asuh orang tua yang protektif dan bersikap mengontrol. Contohnya, kamu mungkin berasal dari keluarga yang mementingkan pencapaian.
  2. Lingkungan yang kompetitif.
  3. Pekerjaan baru bisa menjadi trigger dari imposter syndrome, posisi dan tugas baru di lingkungan kerja mungkin membuat kamu seolah merasa tidak mampu.

Tips mengatasi Imposter Syndrome

Imposter syndrome jika dibiarkan akan mendatangkan kecemasan hingga depresi, akibatnya performa kamu di lingkungan kerja akan terganggu. Terdapat beberapa tips mengatasi imposter syndrome, berikut diantaranya:

1. Bagikan Perasaan yang Kamu Hadapi

Coba untuk membicarakan perasaan kamu ke orang lain. Kamu hanya butuh mengakui dan menyadari tentang perasaan yang sedang dialami. Cara tersebut bisa membantu kamu menyadari bahwa kekhawatiran yang kamu alami tidak berdasar.

Para ahli merekomendasikan kamu yang memiliki imposter syndrome untuk melakukan terapi sebagai pengobatan. Kamu juga bisa lebih terbuka kepada pakar kesehatan mental untuk mengidentifikasi perasaan, alasan dan cara mendasar untuk mengatasinya

2. Berkomunikasi dengan Orang Lain

Coba untuk mulai membantu orang lain, mengajak mereka untuk berdiskusi dan berikan berbagai pertanyaan. Keterampilan tersebut akan membantu kamu membangun kepercayaan diri.

3. Kenali Kemampuanmu

Kamu bisa mulai membuat penilaian secara realistis, baik dari segi sosial hingga kinerja. Caranya, kamu bisa mulai menuliskan prestasi yang telah diraih, bidang yang dikuasai, lalu bandingkan dengan diri kamu saat ini untuk menemukan kemampuan lebih baik lagi.

4. Mulai dari Langkah Kecil

Tak perlu fokus ke hal yang sempurna, mulai langkah kecil, misalnya memulai percakapan di grup, menawarkan pendapat atau bercerita tentang diri kamu.

5. Berhenti Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Membandingkan diri kamu dengan orang lain akan memicu perasaan tidak cukup baik. Kamu akan mencoba menemukan kesalahan pada diri sendiri, sehingga timbul rasa khawatir.

6. Gunakan Media Sosial secara Berimbang

Penggunaan media sosial yang berlebihan bisa memicu perasaan kamu setelah melihat pencapaian orang lain di media sosial, timbul rasa khawatir dan merasa rendah diri. Gunakan media sosial sekedarnya saja, jangan berlebihan agar tidak memicu imposter syndrome.

7. Pertanyakan Pilihanmu

Saat pikiran kamu mulai menilai kemampuan diri, pertanyakan kembali tentang pikiran tersebut. Tanyakan pada diri sendiri, apakah pikiran kamu rasional dan masuk akal.

8. Lawan Pikiran Negatif yang Menghampirimu

Saat pikiran negatif muncul, kamu perlu melawannya dan mencoba untuk menghadirkan positive self-talk. Kamu bisa mencoba mengatakan akan proses yang telah kamu lalui untuk sukses. Banyak cara dan kiat untuk menetralkan pikiran negatif dan mengganggu, berikut diantaranya:

  • Rayakan pencapaian saat ini
  • Mengingat kesuksesan di masa lalu.
  • Menyimpan catatan positif dari orang lain tentang diri kamu.

Tak sedikit orang yang mengalami imposter syndrome di lingkungan kerja, merasa tidak kompeten, tidak kreatif, tidak berbakat dan ahli di bidangnya. Keadaan tersebut mampu mereka atasi dengan tetap berpikir positif, melawan perasaan negatif tersebut dan mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri dengan lebih baik lagi. Kamu bisa terbuka dengan perasaan diri sendiri kepada orang lain atau teman kantor agar bisa melawan ketakutan yang tengah dihadapi di lingkungan kerja.