Kenali potensi karir terbaikmu melalui beragam asesmen psikologi yang terukur, cek sekarang juga! ✨✨✨!
brand-logo
secondary-logo
Jangan Mau Kalah dengan Murid, Ini 7 Skills yang Wajib Dimiliki Guru di Era Digital
Karen KarenJune 03, 2024

Professional Development

Jangan Mau Kalah dengan Murid, Ini 7 Skills yang Wajib Dimiliki Guru di Era Digital

Profesi guru masih banyak dicari. Data Kemendikbudristek, Indonesia di tahun 2024 ini masih kekurangan 1,31 juta guru. Karena itu, tidak heran kalau yang tertarik untuk meniti karir jadi pendidik juga sama banyaknya. Namun, mengajar di era sekarang berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Zaman sudah berubah.

Dahulu, milenial didorong untuk berani menjawab soal dari guru di depan kelas. Itu dianggap sebagai inisiatif yang baik dari siswa. Selebihnya, siswa duduk tenang menyimak penjelasan dari guru. Beda dengan sekarang. Suasana kegiatan belajar-mengajar (KBM) dibuat lebih hidup di setiap kelas. Hal itu karena murid dan guru dibiasakan untuk berdiskusi dua arah.

Selain di dalam kelas, pembelajaran zaman sekarang juga bisa dilakukan di berbagai tempat. Bahkan bisa dilakukan secara jarak jauh, terutama saat pandemi Covid-19. Kalau dulu tugas sekolah dikumpulkan di ruang guru, sekarang tugas siswa dikirim lewat grup WhatsApp.

Pemanfaatan teknologi yang masif di dunia pendidikan ini tidak boleh diabaikan oleh orang-orang yang berkarir sebagai pendidik. Karena merekalah ujung tombak dalam mendidik para penerus bangsa. Mau tidak mau, guru juga harus berubah. Setidaknya, ada tujuh skill yang harus dimiliki guru di era digital seperti sekarang ini. Jangan sampai kalah pintar dengan murid, deh!

1. Inovatif dalam Memecahkan Permasalahan

Guru zaman sekarang dituntut lebih kreatif dan inovatif. Berkat kemajuan teknologi, guru yang bertugas di pedalaman bisa saja menerapkan metode pembelajaran yang lebih advance dibandingkan guru di kota-kota besar.

Contohnya, ada satu SMP di Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang saat pandemi memberikan pembelajaran jarak jauh lewat teknologi jadul yang disebut dengan radio. Cara ini dilakukan supaya siswa tidak ketinggalan pelajaran, terutama mereka yang tidak memiliki handphone.

2. Kreatif Membuat Materi Pembelajaran

Pembelajaran yang hanya berkutat pada text book biasanya membuat siswa mudah bosan. Apalagi dilakukan berjam-jam selama lima atau enam hari. Kalau sudah bosan, tentu jadi kurang maksimal dalam menyerap ilmu. Karena itu, selalu buat hal baru untuk mengundang rasa penasaran murid. Contohnya, bikin infografis, atau membuat materi ajar dengan konsep audio visual.

3. Terampil Memanfaatkan Internet untuk Memperkaya Materi

Dulu sumber pengetahuan utama bagi para milenial di sekolah adalah buku. Sekarang, buku bukan satu-satunya sumber ilmu. Guru bisa mendapat berbagai sumber materi ajar yang dulu sulit dijangkau dengan mengakses internet. Misalnya jurnal terbitan universitas luar negeri. Manfaatnya, materi yang didapat murid juga menjadi lebih up to date.

4. Penguasaan Bahasa Asing

Kamus Oxford warna biru dan tebal itu sudah jarang kita temui lagi sekarang. Sekarang, sudah banyak aplikasi di Android atau Apple yang bisa dimanfaatkan untuk menerjemahkan secara langsung. Ini tentu saja bisa mempermudah siswa untuk belajar bahasa asing. Tak hanya Bahasa Inggris, siswa juga bisa belajar langsung bahasa asing lain semisal bahasa Jepang atau Korea.

5. Adaptif Memanfaatkan Game untuk Pembelajaran, Kenapa Tidak?

Zaman sekarang, anak SD bahkan sudah banyak yang memakai handphone. Banyak pula anak yang kecanduan bermain game. Lalu, kenapa tidak mengubah hal ini menjadi positif? Seperti memanfaatkan game sebagai platform pembelajaran. Sudah ada banyak game pendidikan yang bisa diunduh secara gratis dan bisa diterapkan untuk murid-murid PAUD, SD, SMP, atau bahkan SMA. Bahkan, bukan tidak mungkin guru menciptakan game sendiri untuk pembelajarannya. Sudah banyak loh guru yang berhasil melakukan itu!

6. Jadi Pendengar yang Baik sebagai Sahabat Murid

Zaman yang serba digital membuat para murid bisa mengakses apa saja lewat internet. Kadang hal positif, tapi ada juga siswa yang memanfaatkan internet untuk hal-hal yang buruk.

Di sinilah peran penting guru. Jangan sampai jarak guru dan murid terlalu jauh. Jadilah sahabat bagi mereka. Bangun hubungan emosional agar mereka mau terbuka dan berbagi cerita. Karena merasa punya sahabat yang dapat diandalkan untuk berbagi keluh kesah, maka hal itu akan mengurangi risiko anak-anak mengakses hal buruk di internet.

7. Kolaboratif dengan Siswa

Salah satu faktor yang membuat suasana pembelajaran menyenangkan adalah guru yang asyik. Untuk bisa menjadi guru yang asyik, kuncinya adalah kolaboratif. Libatkan siswa secara aktif dalam proyek pembelajaran di kelas. Sebab belajar itu sepanjang hayat. Di kelas, tidak hanya murid yang belajar pengetahuan. Para guru juga belajar banyak hal baru.

Kemajuan pesat teknologi informasi dan digitalisasi memang memaksa semua pekerja untuk adaptif. Maka, terus belajar dan mengembangkan diri jadi kunci keberhasilan karir bagi semua orang. Terlebih para pendidik yang mengemban tugas dan tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi masa depan Indonesia.

Terus asah skill baru dengan membaca beragam artikel pengembangan karir dan upskilling di KarirLab. Supaya semakin cerdas dalam memandu pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Lewat KarirLab, para guru juga bisa mengajak siswa-siswinya untuk mengikuti asesmen minat karir dan potensi diri. Memetakan minat dan potensi diri sedini mungkin penting loh demi keberhasilan karir mereka di masa depan.

Jika kamu ingin mendapatkan informasi terkait pengembangan diri, pengembangan karir, dan berbagai lowongan pekerjaan/ magang terpercaya, kamu dapat bergabung dalam channel KarirLab. Kamu juga bisa mendapatkan diskon spesial, lho!

https://karirlab-prod-bucket.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/files/privates/YEcNpMezDfXJbhoIFsSBmnIpUEEsaqmLQMMonDsy.png

#guru
#pembelajaran